Lima tahun terakhir,
Tsunami menggulung Aceh.
Gempa meruntuhkan Jogja
Tsunami menyapu Pangandaran
Gempa menumbangkan Sumatera Barat.
Musibah Musibah dan Musibah
Kemudian Kemarin atau Hari ini,
Tanganku terbakar
Hati aku tersakiti
Uangku hilang
Benda kesenanganku dirusak
Bahuku disenggol dengan kasar
Merasa orang lain membicarakan hal buruk tentangku
Merasa orang itu membenciku....
Dan mungkin bukan hanya itu saja,
Aku merasa tidak dihargai
Aku merasa dilecehkan
Aku merasa tidak diperdulikan
Aku merasa dianiaya, dizalimi, dikhianati
Aku diperlakukan tidak adil....
Lalu,
Aku marah
Aku benci
Aku membanting pintu dan pergi
Aku memaki sehingga syaitan pun takut mendengarnya
Aku mengutuk
Bahkan aku menghakimi dan menyalahkan Dia dan mereka atas semua rasa sakit dan kepedihan yang kualami.
DUNIA TIDAK ADIIIIIIIILLLLLLLLLLL................!!!
Akhirnya,
Aku pergi........................................................
Aku bahkan kemudian melakukan perjalanan jauh demi menghilangkan semua rasa itu dari hatiku dan memori itu dari kepalaku.
Berharap untuk selamanya.
HHHhhhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh............
Aku lalu terduduk,
Aku Lelah,
Badanku remuk.
Hatiku rasanya hampa...
Titik.
Setelah agak tenang,
Seorang bijak menghampiriku dan bertanya,
"Anakku, jauh sebelum semua hal di atas terjadi pada dirimu, adakah kamu merasa bahwa selama ini kamu menjauh dari-Nya?"
Aku diam, mulutku terkunci, bahkan badankupun tidak bergerak.
Aku diam.
Tapi dengan lemah hatiku menjawab "Iya...."
Ia kemudian berkata lagi dengan suaranya yang menenangkan, menggema, dan terasa begitu damai.
"Anakku, layaknya seseorang kekasih memberikan Seuntai Bunga Mawar pada pujaan hatinya. Sang Kekasih ingin Pujaan Hatinya mendekat. Sama seperti Tuhan saat Ia memberikan Seikat Rezeki, Dia ingin kita mendekati-Nya"
"Tapi kita justru pergi menjauh!"
Aku tersenyum getir padanya, namun dengan perasaan malu hatiku mengiyakan.
Kepalaku tertunduk dan diam.
Ia kemudian berkata lagi,
"Lalu Tuhan membalikkan caranya dengan memberikan kita Seikat Musibah"
"Anehnya kita mendekat, bahkan tidak jarang sambil lari dan berteriak.. Allahu Akbar, Astaghfirullah, Ya Allah dan sebagainya!"
Aku tercenung, aku mengiyakan dengan penuh persetujuan.
Namun kepalaku semakin merunduk.
"Anakku..." sambil ia memegang pundakku.
"Semua hal itu dilakukan Tuhan hanya karena satu hal"
"Hanya satu alasan"
"Hanya satu saja....."
Dengan lembut, ia berkata,
"Tuhan Kangen Padamu, Nak..."
"Dia ingin engkau mendekat pada-Nya... agar Ia bisa memberimu lebih banyak kasih sayang dan kebahagiaan di hatimu"
Ya Allah........
Sungguh naif aku selama ini...
Disaat aku pergi menjauh dari-Mu, Engkau sebenarnya bahkan semakin mendekat padaku, tapi aku menolak merasakan kehadiran-Mu...
Sejak itu, aku menjadi sadar akan makna seuntai kalimat kecil yang sering kuucapkan.
Seuntai kalimat yang sesungguhnya menyiratkan rasa Kangen-Nya padaku dan rasa Rinduku pada-Nya...
Kalimat itu adalah...
"Bismillaahirrahmaanirrahiiiim......................................."
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
.................................
Hari ini, aku dapat mengalunkan kalimat itu dengan penuh kerinduan pada-Nya.
Kini aku melangkah lebih pasti dengan perasaan positif
Yakin Tuhan selalu melindungiku dalam pelukan-Nya yang hangat...........
credit to: I.S.S
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment